16
Jan
12

Sajak untuk Tidurmu (sayang)

Biarkan malam gelap
Biarkan bintang bersinar
Rembulan menggantung di kolong langit kamar kita
Lampion hangat walau tak terang
Tak jua padam untuk dikenang
Ruang kita berselimut
Lelah kita berpetualang
Dalam segenap mimpi
Dan tidur panjang.
Selamat malam.

Aku tak lagi menunggangi kencana untuk  sampai pada mimpimu
Tak lagi membuka jendela untuk menatap rupa tidurmu
Sebelum fajar biru bertahta
Malaikat duduk dalam buana
Aku ada dalam nyata

Satu per satu saat terlihat daun jatuh
Dari tangkai tua pohon cemara
Ketika kabar tentang hujan menghujam tanah
Kita sudah memandang pelangi di awan cerah

Mimpimu
Mimpiku
Bertemu di batas nyata
Bagimu
Bagiku
Dan semua rindu.
Kita menyatu

Perlahan lahan saja mimpi mengalir
Sehingga kita mengira ia sampai pada sebuah muara
Perlahan pula waktu berjalan
Tak lagi kita kira, pagi telah tiba
Dalam kecewa
Dan teka teki
Tentang elegi
Dan semua mimpi.
Selamat pagi.

#Menjelang  Ia Pulang

—Mentari Tabriz—
150112

Advertisements
16
Jan
12

Catatan menjelang senja (mentari terbenam)

#Yang kau lihat terbit di timur
Ia tenggelam di barat
Yang kau lihat hadir bersama kabut
Ia tenggelam di dasar gelap
Mentari

#Dalam semua lamun
Aku hanya ingin menangkap bayang bayang
Yang hadir
Tak tersentuh
Yang dekat
Tak terasa
Maka terus kulamuni
Bagaimana cara untuk membawamu berjalan dalam gelap
Hitam

#Aku tak henti menyangka
Mengapa jasadku mampu memantulkan bayangan
Pun dalam kehidupan ini
Aku mengira
Jika segalanya
Tak pernah lebih dari  bayang bayang itu sendiri
Kosong

#Gugur bunga di taman
Meninggalkan semerbak wangi yang berlalu ditiup angin
Yang tersisa hanya tangkai yang patah
Daun yang membusuk
Tangisan lebah
Dan cekikik ulat yang tampak kenyang
Binasa

#Sekali lagi aku mengundangmu duduk di bangku taman itu
Menikmati secangkir kopi
Yang kuracik dari jemariku sendiri
Sekali lagi, aku menyuruhmu datang
Tapi kuharap
Kau sendiri
Jangan lagi kau bawa teman temanmu yang haus
Sekelompok angin
Dan pasukan semut
Aku tak suka mereka
Saat kita lagi lagi berbincang tentang hal yang paling jauh
Mereka tak pernah ingin tahu
Mengapa tak lantas kita habiskan saja secangkir kopi kita
Satu persatu semut semut itu berbaris
Membawa rasa yang manis dari tepian cangkir ke lubang yang sulit untuk kuteriakan:
Kembalikan ia ke sisi cangkirku
Belum juga berhenti
Rupanya aroma angin yang hambar ingin juga mengecap itu;
Menjulurkan lubang hidungknya pada aroma wangi yang menggoda kelenjar tenggorokannya
Puas, kemudian jauh berlari
Itulah sebabnya, mengapa aku tak suka kau membawa teman temanmu hadir
Ketika kuajak kau berbincang di taman itu
Saat apa yang kita bicarakan masih sama hangat dengan secangkir kopi
Perlahan lahan hilang—apa yang kuseduhkan untukmu.
Di sana

#Nyanyi burung hantu di malam sunyi
Di atas atap rumah kita
Sesunyi gelap pada malam
Sehenyap hati dalam lamunan
Tak ingin lagi kudengar kau bernyanyi
Hanya menambah sunyi sebuah malam
Terbanglah

#Mungkin karena gelap begitu mencekam
Hingga seekor tikus berlari cepat membawa tulang di mulutnya
Seakan seekor kucing menjadi polisi yang mengintai gerak geriknya
Yang satu menyelinap di antara semak
Yang satu mengawasi dari balik dinding
Hingga pada sebuah pertempuran
Kucing mati karena tikus menelan racun dalam tubuhnya
Semua mati karena perangkap

#Aku mulai mengerti mengapa nyanyimu begitu merdu di malam sunyi
Karena rembulan bisu
Dan bintang bintang  khusyu
Hanya ada lonceng di tengah malam
Imaji sepi di tengah mimpi
Hanya itu yang bisa kudengar
Teman bicara penghibur lara
Aku mulai tahu arti sebuah nyanyi

#Jika harapanku sampai hingga langit ke tujuh
Aku ingin benar benar telanjang dalam syahdu
Berbalut sehelai bulu sayap malaikat yang lepas dari punggungnya
Jangan kau tanya siapa ia yang kudekap
Siapa ia yang jemarinya kugenggam
Siapa ia yang kutuntun menuju gerbang taman itu
aku hanya ingin ke sana
mungkin bertamasya
atau sekedar menghabiskan senja di balik awan dan langit semesta
tak lebih,
bahwa aku ingin mengajaknya ke sana
Bidadariku, yang kubawa dari bumi

#Setelah malam
Mungkin kabut
Mungkin dingin
Atau pula angin
Tapi aku ingin
Drama gelap sebelum malam berlalu
Sebelum mentari terbit
Setelah sajak pada ufuk timur dipentaskan
Terang

#Hai: sapa rembulan pada bintang
Betapa terpesona bintang itu padanya
Maukah kau berdansa menghabiskan malam ini denganku?, sapa rembulan
Betapa senang bintang itu mendengarnya
Betapa jatuh cinta bintang itu pada rembulan
Mereka berdansa di ruang gelap
Seakan tak ada lagi yang tersisa ketika cinta bergelora
Melewati kerongkongan kita yang haus dahaga
Menyapa kulit kita yang kusam akan sentuhan
Mungkinkah dalam ketidsksadaran ketika kita berkata: kami dimabuk cinta
Habislah waktu di lantai langit yang gelap
Langit menjadi terang
Rembulan letih lusuh layu tertingggal
Tampak pucat di langit terang
Betapa tak kuasanya ia melihat bintang terjatuh ke dasar lautan
Ia menangis, menangis membanjiri daratan
Ketika kita benar benar sadar akan sebuah masa
Ketika waktu begitu kuasa atas segalanya
Mengapa kita tak lantas saja berkata:
Bahwa kami sadar dalam cinta

#Mimpi hanyalah ilusi malam
yang terhanyut dari sebuah lembah
menuju dataran rendah
jika kita suka terjerembab dalam arus bawah
berarti kita begitu lelah
kalah

#Seperti angin
Karenanya lembah ini begitu sejuk
Kita tahu bunga beraroma wangi
Daun bergoyang
Layang layang terbang
Cukupkah terima kasih kita
pada ia yang tak pernah menampakkan wujudnya
mungkin kah kita berani berkata
ia tak pernah ada
Tapi semua merasakannya

#yang kau lihat gelap
Itu malam
Datang setelah senja beranjak dari pandang
Surya tenggelam di balik lautan
Langit tak lagi biru
Mungkin hitam
Atau pula kelabu
Mungkin kelam
Dan sehampar kelambu
Lamun kita bertemu cerita panjang yang buram yang abu abu
Mimpi.

#komulatif kata, satu berbaris satu menjadi sebuah kalimat yang tegak berdiri berjalan bersama waktu, menuju perisirahatan di senja yang sekejap–mungkin sedikit terang–yang pasti akan terbungkus hitam, jauh saat lelah berharap menjabat jemari fajar yang membeku oleh dingin, terbakar panas. maka tangan kita akan binasa sebab lelah.  maka jangan tidurkan kata kata, saat sendiri angin berbisik; bicaralah. sekarang hanya itu yang kita punya.

sudah lebih dari satu minggu  2011 meninggalkan  kita pada sebuah gerbang “perpisahan”, satu per satu lembaran pada halamannya kita tulis, kita rangkum, kita rangkai menjadi sebuah cerita dalam detik kehidupan.
Mungkin kita menyisipkan cerita yang indah, diselingi tawa, mungkin pula bahagia. Atau  ada pada alinea dalam cerita itu yang kita tulis—tanpa kita tahu mengapa kita menulisnya—terselip luka, duka, atau pula cinta.

–Mentari Tabriz–
070112

16
Jan
12

Aku Tahu

Bagilah padaku
Pagi yang menerangi malammu
Hal yang tak bisa kau ceritakan pada mimpi
Bagilah padaku
Pagi yang mengetuk sadarmu

Jangan kau bawa kaki dalam langkah letih
Ajaklah aku berjalan
Jemari senja yang menuntunmu
Menuju langit yang bertabur bintang
Akulah jari jari waktu
Dalam kabut pekat dan mega raya

Aku tahu kau sendiri
Aku tahu kau lelah
Aku tahu kau begitu

Aku lembar angin yang bercerita
Satu waktu kau sendiri
Aku bahu yang memikul beban
Satu waktu kau lelah
aku tahu kau menangis saat datang cerca
aku tahu kau akan menghibur dalam sepi
maka tak usah lagi ada sedih
aku tahu kau begitu.

—Mentari Tabriz—
160112

16
Jan
12

Bisunya Hari Ke Lima

Jumat ini bisu
Bahkan aku tak akan bertanya pada waktu;
Pergilah segala yang melelahkan
Biarkan aku duduk di atas menara rapuh yang kubuat sendiri
Pada saatnya aku takut gelap
Di bibir pantai seakan mentari melambaikan tangan pada cahaya yang bias oleh senja
Menangislah di dasar lautan
Agar rembulan datang di malam senyap
Agar bintang bintang berhamburan dari dasar lautan ke ujung cakrawala bertautan
Pergilah nyanyi burung di deru ombak yang menggulung
Mataku sudah lelah meneteskan air mata
Sekali lagi, biarkan aku duduk  di atas menara rapuh yang kubuat sendiri
Jumat ini bisu
Biarkan aku membeku di lantai tak beralas
Sampai aku tak ingin lagi bertanya:
Bilakah esok mentari kembali terbit.
Setelah hari ini
Esok,
Lusa,
Atau mungkin jumat depan,
Semua sudah menjadi dongeng ibu pengantar tidur.

#Kalau saja angin yang menyapa di antara tidur ini mampu terbang seperti seekor merpati, maka bolehlah kutulis pada udara“sampaikan kerinduan tepat mengetuk dinding jantungnya.Agar ia mampu mengerti arti sebuah rasa.”

—Mentari Jum’at di Langit Tabriz—
130112

16
Jan
12

Lenyap (tetap berdiri di tepi senja)

Perlahan lahan mimpi itu habis, teman
Seperti wangi bunga yang hilang terbawa angin
Seperti bangkai yang menyisakan tulang
Saat aku tak sempat lagi bertanya
Di mana kau
Ke mana kau

Meski sempat kau menjadi lilin kecil bagi langkahku yang gelap
Walau di saat yang sama kita binasa
Di saat yang sama angin berkata pada kita, “ke mana lagi hendak melangkah?”

Sekali lagi,
Izinkan aku mencabuti rumput yang tumbuh di sela padi yang kita tanam
Hingga pada saatnya aku melihat kau menuai banyak harapan pada yang kau tanam
Biarkan tikus berlari
Ular menunggu di antara semak
Burung riang menemanimu di pematang
Dan orang orangan sawah masih selalu terlihat tegang
Walau pada waktu itu,
Teman, aku tak mungkin lagi datang.

—Mentari Tabriz—
130112

16
Jan
12

Dimensi cinta

Ini tentang kau dan aku, sayangku
Tentang cerita pada sajak yang tenggelam bersama senja
Kita duduk di tepi lautan itu
Saat masih terasa hangatnya pelukmu pada angin yang berlalu

Ini tentang kau dan aku, sayangku
Tentang cinta yang datang bersama fajar yang menawarkan hangat
Kita termenung di pojok sebuah danau
Merasakan aliran air yang datang pada muara

Semua berlalu
Semua hilang bersama waktu

Kau dan aku dalam dimensi cinta
Yang ak mungkin renta
Musnah dalam memori
Selamanya…..

—Syam At Tabriz—
281211

16
Jan
12

Perjalanan Menuju Siang

Bukan pagi yang kuharap datang, jika kerinduan rasanya seperti embun yang terhempas dari atas daun yang basah, ke tanah yang kering, sesudahnya lenyap, sesudahnya menjadi bagian yang hilang karena mentari

Tak mungkin jika selamanya kukubur mimpi dalam ruang kegelapan yang tak mampu berbicara, walau dengan sepi. Harapan ini butuh bicara—walau mungkin tak ada yang ingin mendengar—dengan semua yang ada; kepada burung burung, hutan, taman, lautan, bintang, rembulan, angin, jalan, lampu taman, atau kau, mungkin kau….

Mengertilah jika apa yang kuusahakan dalam hidupku, tak akan jauh dari apa yang kita bicarakan selama ini; mungkin tentang masa masa bahagia yang kita khayalkan untuk hari esok, tentang taman mungil yang selalu kita tanami beraneka bunga, tentang kisah cinta kita, rumah tangga yang sederhana, anak anak yang membahagiakan—walau kita tak tahu seperti apa anak kita nanti, mirip dengan siapa anak kita nanti; mungkin aku, atau siapa pun ia, selain aku; semoga bukan, dan itu benar benar aku. Tetapi itulah mimpi, itulah harapan yang datang bersama cinta, rindu, dan jalinan asmara kita.

Aku begitu sadar dengan jalinan kasih di antara kita, jalinan asmara yang mengikat dua hati, dua jiwa, dan tentu, dua pribadi; kau dan aku. Cinta sudah menjadi ruang yang sejuk untuk kita bicara—tentang masa lalu kita, apa yang tak pernah kita bicarakan kepada orang lain, sesuatu yang hitam, atau perasaan yang terdalam yang selama ini bersembunyi di balik lumpur yang pekat, air yang keruh, dan udara yang sangat tipis—sekarang sudah kita bicarakan, sudah kita dengarkan satu sama lain

Cinta pula harapan, cinta sebuah keinginan agar kita menjadi yang terindah, yang dirindu, yang menenangkan hati, yang memeluk segala keresahan, yang menggandeng tangan saat lelah. Apa pun yang kita tafsirkan tentang cinta, tafsirkan seperti apa yang sedang terjalani.

Tak ada yang mengerti cinta selain mereka yang pernah merasakannya; manis getirnya cinta. Aku ingin sekali menghapus awan hitam yang masih tersisa dari mendung di hati, sesekali mengusirnya dengan menghibur diri; melamun, menangis, atau berteriak di hutan yang tak bertuan; itu percuma; karena hujan sering kali turun walau dalam cuaca yang terik sekalipun

Inilah hidup kita yang sangat nyata, inilah hidup kita yang benar benar sedang kita jalani, yang hitam dan putih, yang cerah dan berpuluh warna, atau yang gelap penuh dengan tanda tanya, itulah hidup. Sepertinya memang inilah hidup, apa yang kita hembuskan dari jantung menuju corong dua lubang hidung kita, hanya menjadi jam yang terus maju, hanya menuntun setiap detik berjalan untuk berkumpul menjadi masa yang sangat jauh, sangat asing, atau mungkin melelahkan.

Kita hanya bidak yang bersiap dibuat terkapar tak berdaya oleh waktu, maka bersiaplah untuk itu. Sebelum waktu benar benar membuat kita menjadi tumpukan bangkai yang tersusun di dalam tanah, di atas bangkai yang lainnya, di atas tulang yang  tak lagi berdaging, di atas bau yang menyelimuti dinginnya tidur yang panjang, dan di bawah nisan yang hilang alamat si empunya rumah.

Buatlah halaman rumahmu seperti apa pun yang kau kehendaki dalam khayal dan harapan untuk masa depan, kita bebas untuk memilih hidup yang bebas.

 

 

 

—Syamsir Alam—

120112

 




Tentang Saya

Let Me die young and let me Live forever
I don't have the power but I never say never..................

pemberontak

November 2017
M T W T F S S
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930